Di Balik Senyum Anak Pertama: Cerita Mahasiswa yang Takut Gagal Tapi Tak Pernah Berhenti Mencoba
“Bagaimana rasanya jadi anak pertama?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi jawabannya bisa jadi sangat panjang.
Namaku Diva Feli Syah biasa di panggil Diva atau Feli, 20 tahun, mahasiswa semester 4 di Trisakti School of Management, jurusan Manajemen. Aku anak pertama dari dua bersaudara yang pertama bangun pagi, yang pertama diajarkan cara hidup, dan yang pertama di pundaknya dititipkan harapan.
Sejak kecil aku terbiasa dengan ucapan,
“Kamu harus jadi contoh.”
“Kamu harus bisa lebih.”
“Kamu nanti jadi tumpuan keluarga.”
Semakin dewasa, kalimat-kalimat itu makin terasa berat. Aku mencoba menjalaninya sebaik mungkin. Tapi jujur, semakin aku tumbuh, semakin aku sadar jadi anak pertama itu nggak selalu kuat, sering kali cuma pura-pura nggak goyah.
Sekarang aku ada di pertengahan masa kuliah, dan tekanan itu mulai terasa lebih nyata. Nilai harus stabil, CV harus bagus, pengalaman organisasi harus ada, dan di luar itu semua aku juga harus tetap “kelihatan baik-baik saja”.
Padahal, aku sering takut. Takut gagal. Takut nggak bisa lulus tepat waktu. Takut kalau gelar S1 nanti tidak menjamin apapun. Takut mengecewakan orang tua yang sudah berjuang membiayai kuliahku.
Kadang aku membandingkan diri dengan teman-teman yang sudah punya bisnis, magang di perusahaan besar, atau viral karena prestasi. Sementara aku? Masih berusaha memahami teori pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, mengerjakan tugas-tugas kelompok, dan mencoba menyeimbangkan semuanya tanpa kehilangan arah.
Di balik senyum dan cerita lucu di grup pertemanan, aku menyimpan banyak kekhawatiran. Bukan karena aku tidak mampu, tapi karena aku sadar aku sedang membawa harapan harapan orang tua, adik, bahkan harapan diriku sendiri yang ingin membuktikan bahwa aku bisa.
Tapi pelan-pelan aku belajar: nggak apa-apa merasa takut. Nggak apa-apa belum tahu harus ke mana. Yang penting, aku masih mau berjalan.
Setiap pagi yang berat, setiap tugas yang melelahkan, setiap malam yang penuh pikiran semua itu bukan kelemahan, tapi bagian dari prosesku.
Tulisan ini aku buat sebagai pengingat: untuk diriku sendiri, dan mungkin untuk kamu juga yang sedang berada di posisi yang sama.
Kalau kamu juga sedang di fase ini kuliah sambil membawa beban harapan tenang, kamu nggak sendiri. Kita mungkin belum tahu apakah semua ini akan sepadan, tapi kita tahu bahwa kita sudah berjuang sebaik mungkin.
Untuk kamu, untuk aku, untuk kita para anak pertama: terima kasih sudah bertahan sejauh ini.
Kita belum sukses. Tapi kita sedang menuju ke sana. Dan itu, sudah luar biasa.
Komentar
Posting Komentar